bprplb.com
Revolution Slider Error: The slide is not initialized!!!

LAYANAN KAMI

Kami menyiapkan layanan yang terintegrasi dan siap memuaskan Anda

Kredit

Fasilitas Keuangan yang diberikan kepada nasabah dalam waktu tertentu

Tabungan

simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati.

Deposito

Simpanan dana pihak ke tiga yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu.

SIAPA KAMI

PT. BPR Pesisir Layar Berkembang dirintis pendiriannya sejak tahun 2005 oleh Koperasi LEPP – M3 (Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina) Sejahtera Lombok Barat yang pada waktu itu sebagai Pengelola Dana Ekonomi Produktif (DEP) yang sumber dananya dari Departemen Kelautan dan Perikanan Cq Dirjen KP3K.
Koperasi LEPP M3 ditunjuk oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Barat Cq Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Barat untuk mendampingi PT. PNM (Permodalan Nasional Madani) selaku Konsultan dalam rangka mendirikan BPR. BPR yang akan didirikan tersebut dimaksudkan untuk dapat melanjutkan upaya-upaya yang sudah dilaksanakan oleh koperasi LEPP – M3 selama ini yaitu melaksanakan program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEM).

Atas dasar surat perintah tersebut PT. PNM sebagai konsultan membuat study kelayakan pendirian PT. BPR Pesisir Layar Berkembang pada tanggal 12 Oktober 2005 dan pada tanggal yang sama dibuatlah akte pendirian pada notaris Lalu Sribawe, SH. Dan pada tanggal itu juga diajukan izin prinsip kepada Bank Indonesia terakhir pada tanggal 21 Nopember 2006.

Selanjutnya →

BERITA TERBARU

BI Ungkap Penyebab Terbatasnya Pertumbuhan Kredit

16 Maret 2017 VIVA.co.id – Bank Indonesia merilis angka pertumbuhan kredit pada Januari 2017 sebesar 8,3 persen secara year on year (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 7,9 yoy. Terbatasnya angka tersebut, disebabkan beberapa hal.
Asisten Gubernur Kepala Departemen Ekonomi dan Moneter BI, Dody Budi Waluyo, mengungkapkan terbatasnya pertumbuhan kredit di awal tahun karena masih berlanjutnya konsolidasi internal yang dilakukan korporasi, serta masih terbatasnya permintaan kredit.
“Kami masih berharap konsolidasi ini prosesnya segera selesai,” kata Dody saat konferensi pers di Jakarta, Kamis 16 Maret 2017.
Sejauh ini, catatan bank sentral menunjukkan, bahwa pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial telah menurunkan suku bunga deposito sebesar 128 bps (bps) secara yoy, dan suku bunga kredit sebesar 80 bps yoy.
Berdasarkan jenis kreditnya, suku bunga kredit modal kerja mengalami penurunan terbesar, yaitu 125 bps secara yoy, kemudian disusul dengan suku bunga kredit investasi 95 bps secara yoy, dan suku bunga kredit konsumsi 30 bps secara yoy.
Lambatnya transmisi kebijakan moneter dan makro prudensial bank sentral, kata Dody, karena sejumlah bank yang masih harus menanggung biaya kredit macet (Non Performing Loan) dan profisi. Pada akhirnya, memberikan pengaruh terhadap akselerasi transmisi.

BI Prediksi Kredit Perbankan Mulai Pulih di Kuartal II 2017

Liputan6.com, Jakarta Bank Indonesia (BI) menyatakan penyaluran kredit perbankan pada tahun ini tidak sesuai harapan. Penyebabnya karena kondisi ekonomi yang belum tumbuh secara signifikan.

Gubernur BI Agus DW Martowardoyo mempekirakan laju pertumbuhan kredit masih akan lesu hingga awal 2017. "Bank Indonesia melihat pertumbuhan kredit di 2017 akan mulai pulih, tapi kelihatannya pemulihan itu akan mulai terlihat pada akhir kuartal II 2017," kata Agus di Gedung Bank Indonesia, Kamis (17/11/2016).

Sementara Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan, masih lesunya penyaluran kredit di awal tahun depan tersebut dipengaruhi beberapa faktor.

Perry menuturkan, seperti perbankan yang sampai saat ini masih berkonsentrasi dalam pemulihan kinerja Nett Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah yang rata-rata mencapai 3,4 persen secara gross.

“NPL-nya groos itu 3,1 persen, sedangkan NPL nett-nya 1,4 persen, berarti kan ada gap. Itu perbankan masih memerlukan untuk pencadangan, jadi penyaluran kredit belum seperti yang diharapkan,” papar dia.

Akibat berbagai kondisi tersebut, menjadi indikator BI yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun depan tumbuh tipis di kisaran 5,0-5,4 persen, atau tumbuh tipis dari perkiraan tahun ini sebesar 5 persen. (Yas/nrm)

OJK Targetkan Kredit Tumbuh 11 Persen di 2017

Liputan6.com, Jakarta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan kredit perbankan nasional mampu tumbuh hingga 11 persen pada tahun depan. Ini seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2017.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad menyatakan, pertumbuhan sektor perbankan tidak lepas‎ dari perkembangan ekonomi di dalam negeri.

Hal ini karena permintaan kredit perbankan berkaitan erat dengan laju ekonomi sebuah negara.

‎"Tentu perbankan tidak lepas dari pengaruh perkembangan ekonomi. Permintaan kredit ditentukan sejauh mana ekonomi itu bergerak," ujar dia dalam acara Ekonomi Outlook dengan Tema Ekonomi Indonesia Menyongsong 2017 di Studio SCTV, Jakarta, Kamis (17/11/2016).

Pada tahun ini, lanjut Muliaman, pertumbuhan kredit perbankan nasional berada di angka 7 persen hingga 9 persen. Namun dengan pertumbuhan ekonomi yang cerah ke depannya, maka kredit perbankan di tahun depan diharapkan bisa menyentuh angka 11 persen.

"Kita lihat perspektif yang lebih luas. Saya kira pertumbuhan yang ditempuh hari ini selain mencerminkan apa yang terjadi saat ini tapi dikatakan bisa tumbuh lebih tinggi. Pertumbuhan kredit saat ini sekitar 7 persen-9 persen, tahun depan 9 persen-11 persen. Ini ditentukan pada perkembangan perekonomian," tutur dia.

Namun dengan adanya beragam paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah, diharapkan akan berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan demikian bisa mendorong pertumbuhan kredit perbankan.

"Apa yang ditempuh oleh pemerintah dengan paket-paket kebijakan, juga adanya perbaikan pada easy of doing business. Ini perlu untuk push ekonomi lebih tinggi," tandas dia. (Dny/Nrm)

PARTNER KAMI

Kami bekerja sama dan diawasi oleh

Testimoni Customer

Recent Comments